twitter
    Find out what I'm doing, Follow Me :)

Minggu, 24 Februari 2013

Kekuatan Sedekah


Dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sbb : Tatkala Allah Ta’ala menciptakan bumi, maka bumipun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumipun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung?”
Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batupun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi),
Para malaikat bertanya lagi “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi?” Allah yang Maha Suci menjawab, “Ada, yaitu api” (besi, bahkan bajapun bisa menjadi cair dan lumer setelah dibakar api),
Para malaikat kembali bertanya “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api?” Allah yang Maha Agung menjawab, “Ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apapun niscaya akan padam jika disiram air),
Para malaikatpun bertanya kembali “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air?” Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain karena kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikatpun bertanya lagi “Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua?”
Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”. Artinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Berkaitan dengan ikhlas ini, Rasul Allah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah: “Wahai segenap manusia ! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat, dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya”.
Oleh karena itu hendaknya kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah semata, tanpa tendensi ingin dipuji, dianggap dermawan, dihormati, dll yang dapat menjadikan sedekah kita menjadi sia-sia.

Sabarnya Nabiullah AS

Sabarnya Ayub AS, sabarnya Sulaiman AS, sabarnya Yusuf AS, dan sabarnya Musa AS
Ini bukan untuk membandingkan tingkat kesabaran diantara tiap nabi tersebut, tapi sebuah ilustrasi yang memudahkan kita untuk memahami jenis-jenis kesabaran.
Sabar ujian kesusahan Nabi Ayub as
Sungguh Ayub as seorang yang sangat sabar melawan godaan kesusahan yang berniat mematahkan keteguhan imannya? Allah telah mengujinya dengan berbagai penderitaan sakit fisik luar dan dalam yang sangat dahsyat dan menjijikkan, dan itu terjadi hampir sepanjang usianya.
Sabar ujian kesenangan Nabi Sulaiman as
Sanggupkah kita sesabar Sulaiman as ketika ia melawan godaan kesenangan dunia yang ingin menutup hatinya? Bukankah kesenangan lebih mudah membuat kita melupakan Sang Pencipta Kesenangan ? Sungguh Sulaiman as tetap tegar dalam keimanan, walau Allah mengujinya dengan kerajaan yang besar, pasukan yang besar, kekayaan yang melimpah, istri yang cantik dan sebagainya.
Sabar ujian kemaksiatan Nabi Yusuf as
Hamba sahaya mana yang sanggup menolak godaan wanita yang punya kekuasaan dan cantik rupawan, kalau bukan seorang Yusuf as. Dialah yang sanggup mengatakan tidak pada Zulaika ketika Allah mengujinya kesabarannya untuk berbuat maksiat bahkan ketika Allah telah menyediakan sarana yang memudahkannya untuk berbuat maksiat.
Sabar ujian ketaatan seorang Nabi Musa as
Inilah kesabaran seorang Musa as, yang mengeluarkan energi keberaniannya namun tetap tegar ketika berkali-kali ia mengajak Firaun untuk bertobat. Ujian ketaatan bukan sesuatu yang datang seibarat ujian kesusahan atau kesenangan, tidak pula merupakan pilihan seibarat pilihan berbuat maksiat atau menolak maksiat. Ujian ketaatan adalah ujian yang diciptakan sendiri oleh seorang manusia di jalan Allah akibat keinginannya yang kuat untuk menjalankan perintah dan larangan Allah, atau karena ingin amar makruf nahi munkar atau karena ingin sekedar beribadah secara lebih baik. Sungguh membutuhkan kesabaran yang besar ketika kita sedang berjuang ingin konsisten menjalankan sholat secara khusyuk atau ketika kita ingin memperjuangkan hak-hak umat Islam misalnya.
Wallahu ‘alam bish shawab
Catatan tambahan, ciri kesabaran :
  1. tidak terburu-buru mengambil keputusan
  2. tegar dengan tujuan yang ditetapkan
  3. tuntas sesuai kemampuan
  4. tidak gampang pasrah
  5. hati tetap senang ketika diuji
***
Hak cipta adalah milik Allah semata. Hak kita sebagai manusia adalah berlomba-lomba menyebarluaskan kata-kata kebaikan kepada seluruh umat manusia.

Kembalinya Seekor Rusa


Dalam kitab Alhilyah, Abu Naim meriwayatkan ; Ada seorang berjlan di depan Nabi SAW dengan membawa rusa yang baru didapat dari berburu, tiba-tiba rusa itu berkata ; Ya Rasulullah sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menetek, dan mereka kini lapar, karena itu suruhlah orang ini untuk melepaskanku untuk meneteki anak-anaku, kemudian aku kembali. Kemudian Nabi SAW bertanya, jika engkau tidak kembali bagaimana?
Jawab si rusa ; Jika aku tak kembali maka Allah akan mengutuk aku bagaikan orang yang disebut namamu disebut padanya tiba-tiba ia tidak membaca sholawat kepadamu.
Lalu Nabi SAW menyuruh orang itu ; lepaskan rusa itu dan aku yang menjamin akan kembalinya rusamu itu. Kemudian pergilah rusa itu menemui anak-anaknya, tak berapa lam ia kembali lagi.
Maka seketika itu turunlah malaikat Jibril as dan berkata ; Ya Muhammad, Allah menyampaikan salam padamu dan berfirman ; Demi kemulyaan dan KebesaranKu, sungguh Aku lebih kasih pada ummatmu lebih dari rusa itu terhadap anak-anaknya, dan Aku akan mengembalikan mereka padamu sebagaimana kembalinya rusa padamu.

Sesuap Diganti Sesuap


Seorang pengemis datang minta kepada seorang wanita yang sedang makan, maka dikeluarkan makanan yang belum sempat dikunyah yang ada di mulutnya dan diberikan kepada pengemis tersebut.
Kemudian tidak lama wanita itu mempunyai anak, dan pada suatu ketika anaknya sedang bermain, diterkam serigala, maka dikejarlah serigala oleh wanita itu sambil berteriak, “Anakku, anakku…”
Maka Allah menyuruh malaikat untuk mengambil anak itu dari mulut serigala sambil berkata kepada wanita itu, “Allah kirim salam kepadamu dan berfirman, Ini sesuap diganti sesuap yang terdahulu.” (HR. Ibn Misri)

Keikutsertaan Nabi SAW dalam membangun Ka’bah


Ka’bah adalah “rumah” yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi “perang berhala” dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang di dirikan di atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah : “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Ismail (seraya berdoa), “Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 127).
Setelah itu Ka’bah mengalami beberapa kali serangan yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Diantaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Makkah beberapa tahun sebelum bi’tsah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Hal ini memaksa orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap Ka’bah merupakan “sisa” atau peninggalan dari syari’at Ibrahim as yang masih terpelihara di kalangan orang Arab.
Rasulullah saw sebelum bi’tsah pernah ikut serta dalam pembangunan Ka’bah dan pemugarannya. Beliau ikut serta aktif mengusung batu di atas pundaknya. Pada waktu itu Rasulullah saw berusia 35 tahun, menurut riwayat yang paling shahih.
Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari hadist Jabir bin Abdullah ra, ia berkata : Ketika Ka’bah dibangun, Nabi saw dan Abbas pergi mengusung batu. Abbas berkata kepada Nabi saw, “Singkirkan kainmu di atas lutut.” Kemudian Nabi saw mengikatnya.
Nabi saw memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan antar kabilah tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan hajar aswad di tempatnya. Semua pihak tunduk pada usulan yang diajukan Nabi saw, karena mereka mengenalnya sebagai Al-Amin (terpercaya) dan mencintainya.

Keajaiban Basmalah

SYAIKH MUHAMMAD AS-SANWANI, Grand Syaikh Al-Azhar Mesir yang ke-13, dalam kitabnya yang bernama “Hasyiyah Ala Mukhtashar Ibnu Jamrah” yang berisi penjelasan kitab Mukhtashar Shahih Bukhari, menulis beberapa kisah nyata tentang keajaiban basmalah.
Di antaranya, beliau menuturkan, “Suatu ketika Abu Hurairah ra.,salah seorang sahabat nabi terkenal, bertemu dengan setan penggoda orang mukmin dan setan penggoda orang kafir. Setan penggoda orang kafir itu gemuk, segar, rapi, dan memakai baju bagus. Sedangkan setan penggoda orang mukmin kurus, kering, kusut, dan telanjang.
Setan gemuk itu bertanya pada setan penggoda kaum mukmin yang kurus, “Kenapa keadaanmu menyedihkan, kau kurus kering, kusut dan telanjang ?”
Setan kurus menjawab, “Aku bertugas menggoda orang mukmin yang selalu berzikir dan membaca basmalah menyebut nama Allah. Ketika hendak makan dan minum ia membaca basmalah menyebut nama Allah, maka aku tetap lapar dan haus. Ketika memakai minyak ia menyebut nama Allah, maka aku tetap kusut. Dan ketika memakai baju ia juga menyebut nama Allah sehingga aku tetap telanjang ! “
Setan gemuk menyahut, “Kalau begitu aku beruntung. Aku bersama orang kafir yang tidak pernah menyebut nama Allah. Pada waktu makan ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa makan bersamanya sampai puas. Ketika minum dia juga tidak menyebut nama Allah sehingga aku bisa ikut minum. Ketika memakai minyak ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku ikut minyakan. Dan ketika memakai pakaian ia tidak menyebut nama Allah sehingga aku ikut memakai pakaiannya.”
***
Begitulah, betapa agung faidah membaca basmalah. Setan tidak bisa ikut makan makanan orang yang membaca “Bismillahirrahmanirrahim !”
Bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, bahwa rumah yang dibacakan basmalah maka setan tidak akan bercokol dan bermalam di dalamnya.
Baginda Rasulullah Saw mengajarkan agar umatnya memulai segala perbuatan baiknya dengan membaca basmalah, menyebut nama Allah SWT. Agar perbuatannya itu benar-benar penuh berkah, tidak diganggu setan dan mendapatkan ridha dari Allah Yang Maha Rahman.

Menahan Amarah


bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu ‘ala rasuli-lLah wa ‘ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah, amma ba’d, assalamu ‘alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH,
“… dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS 3: 134)
Saudaraku, ayat di atas menerangkan 3 tingkatan para wali:
Pertama, menahan amarahnya terhadap orang lain. Terkadang masih tersimpan dendam untuk membalas orang yang berbuat kesalahan terhadapnya.
Kedua, memaafkan kesalahan orang lain. Mengampuni kesalahan orang itu, tidak mencelanya, dan tidak ada dendam untuk membalas kejahatan orang itu.
Ketiga, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Memaafkan kesalahan orang itu, tidak ada dendam, mendoakan orang tersebut dan berbuat kebaikan.
Suatu hari, Khalifah Harun ar Rasyid sedang menjamu para undangan penting, di antaranya para menteri, gubernur, dan panglima perangnya. Tiba-tiba seorang budak yang bertugas membawa minuman menumpahkan kendi, dan basahlah baju sang khalifah. Dengan muka yang memerah sang khalifah menatap pelayan tersebut.
Pelayan yang cerdik itu berkata, “Wahai amirul mukminin, bukankah Allah berfirman, …dan orang-orang yang menahan amarahnya”.
Khalifah menjawab, “Aku telah menahan amarahku”.
Pelayan itu berkata lagi,”..dan mema`afkan (kesalahan) orang”.
Khalifah menjawab, “Aku telah mema’afkan kamu”.
Pelayan itu berkata lagi, “..dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”.
Sang khalifah pun berkata, “Sekarang, aku memerdekakanmu karena Allah”.